081283371960
Reviews | Warranty | Contact
logo Awalindo
lawfirm@awalindo.com
Congratulations as a winner
Jalan Matraman Dalam II No. 22.A, RT. 010, RW. 008, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat 10320 Indonesia
Tim advokasi Awalindo Law Firm

AWALINDONEWS

Forum Group Discussion RS Hermina Bahas Konstruksi Makna, Tindakan Komunikasi Etis Rumah Sakit Dalam Pelayanan Pasien

awalindo.com - Rumah Sakit Hermina menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka konfirmasi data dan penyempurnaan model penelitian Ethical Hospital Communicative Action Model (EHCAM) yang mengangkat tema Konstruksi Makna Tindakan Komunikasi Etis Rumah Sakit dalam Pelayanan Pasien. 23/9/2026

Kegiatan ini diinisiasi oleh Dr. Ani Purwati, S.H., M.H sebagai Peneliti yang menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan akademisi, praktisi kesehatan, komunikasi, hukum, dan manajemen rumah sakit. Para panelis yang hadir adalah dr. Lina Zubaidah, MARS, Kepala Departemen Marketing Eksekutif PT Medika Loka Manajemen, Pung Purwanto, Pemimpin Redaksi Sindonews.com, dr. Burhan, MARS, MKEK IDI Jakarta Pusat, Dr. Leila Mona Ganiem, M.Si, Pakar Komunikasi Kesehatan, Universitas Mercu Buana dan Dr. Aulia Taswin, S.H., M.H., Ketua Umum Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan Awalindo.

Dalam paparannya, Dr. Aulia Taswin menekankan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis tenaga medis, tetapi juga oleh kualitas komunikasi dan sikap kewirausahaan (entrepreneurship mindset) yang dimiliki oleh seluruh unsur rumah sakit, mulai dari tenaga medis, tenaga keperawatan, hingga manajemen pelayanan kesehatan.

Menurutnya, jiwa entrepreneurship dalam pelayanan kesehatan bukan semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan menumbuhkan sikap proaktif, inovatif, bertanggung jawab, berempati, dan berorientasi pada kepuasan pasien. Dengan pendekatan tersebut, tenaga kesehatan akan lebih mampu membangun hubungan yang harmonis, profesional, dan berkeadilan dengan pasien maupun keluarganya.

“Setiap tenaga medis, tenaga keperawatan, dan manajemen rumah sakit harus memiliki jiwa entrepreneurship yang berlandaskan etika dan kemanusiaan. Pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan rasa aman, kepercayaan, dan penghormatan terhadap martabat pasien,” ujar Dr. Aulia Taswin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komunikasi yang etis dan humanis merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan antara rumah sakit dengan pasien. Banyak sengketa pelayanan kesehatan berawal dari kesalahpahaman komunikasi, kurangnya keterbukaan informasi, atau kegagalan menjelaskan kondisi medis secara komprehensif kepada pasien dan keluarganya. Pandangan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyoroti pentingnya komunikasi yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan berkeadilan dalam pelayanan rumah sakit.

Dr. Aulia Taswin juga mengingatkan bahwa apabila terjadi dugaan malapraktik medis maupun malapraktik nonmedis, seluruh pihak hendaknya mengedepankan musyawarah dan penyelesaian secara kekeluargaan melalui dialog yang terbuka dan konstruktif. Menurutnya, pendekatan restoratif lebih memberikan manfaat bagi pasien, keluarga pasien, maupun institusi rumah sakit dibandingkan dengan konfrontasi hukum yang berkepanjangan.

“Apabila terjadi permasalahan pelayanan kesehatan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh empati. Musyawarah menjadi sarana terbaik untuk mencari solusi yang adil bagi semua pihak. Jangan sampai sengketa langsung berujung pada upaya hukum perdata maupun pidana tanpa terlebih dahulu mengedepankan penyelesaian secara damai,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa penyelesaian sengketa melalui dialog dan mediasi dapat menjaga hubungan baik antara rumah sakit dan masyarakat serta mencegah timbulnya stigma negatif yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi pelayanan kesehatan. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan konsep komunikasi etis dan keadilan restoratif yang menjadi bagian penting dalam pengembangan model EHCAM.

Forum diskusi ini menghasilkan berbagai masukan strategis mengenai penguatan komunikasi etis dalam pelayanan kesehatan, peningkatan transparansi informasi kepada pasien, serta pentingnya mekanisme penyelesaian konflik yang mengedepankan nilai kemanusiaan, keadilan, dan pemulihan hubungan antara rumah sakit dengan pasien. FGD tersebut menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola pelayanan kesehatan yang lebih responsif, humanis, dan berorientasi pada kepercayaan publik terhadap rumah sakit.

Dengan adanya forum ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan semakin menyadari bahwa komunikasi yang etis, empatik, dan transparan merupakan instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus mencegah terjadinya konflik yang dapat merugikan pasien maupun institusi rumah sakit.